
PASURUAN | SCDNEWS.ID – Pagi itu, halaman Kantor Bupati Pasuruan berubah menjadi lautan semangat. Puluhan lansia bergerak perlahan namun penuh energi mengikuti irama senam Lin Tieng Kung. Tangan-tangan renta terangkat, kaki-kaki mulai rapuh tetap melangkah, dan senyum mengembang di wajah-wajah yang telah berkerut oleh waktu.
Selasa (26/5/2026) bukan sekadar hari biasa. Di sinilah, di tengah kompleks pemerintahan, RSUD Bangil bersama Dinas Kesehatan Daerah, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, serta Tim Penggerak PKK Kabupaten Pasuruan menggelar sebuah panggung istimewa: Talkshow Kesehatan bagi para lansia. Bukan sekadar seminar, ini adalah bentuk penghormatan pada mereka yang pernah menjadi tulang punggung bangsa.
Suasana makin menggugah ketika para kakek dan nenek itu tidak hanya bergerak, tetapi juga bersuara. Sebuah puisi tentang usia tua mengalun haru di Auditorium Mpu Sindok. Ada getar suara, ada kilasan mata yang sembab. Seni dan kesehatan berpadu menjadi perayaan hidup.
Di barisan depan, hadir sederet nama yang memberi perhatian: Ketua TP PKK Kabupaten Pasuruan, drg. Merita Rusdi Sutejo; Plt Direktur RSUD Bangil, dr. Arma Roosalina; Direktur RSUD Grati, drg. Dyah Retno Lestari; serta Kepala BPJS Cabang Pasuruan, dr. Kemas Rona Kurniawansyah. Mereka datang bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai kepanjangan tangan kasih dari pemerintah.
Talkshow pun dimulai. dr. Cicilia Diah dari RSUD Bangil berdiri di depan panggung. Dengan lembut namun tegas, ia membuka mata hati para lansia dan keluarganya tentang bahaya osteoporosis. “Tulang yang rapuh bukan akhir segalanya. Namun harus dirawat sejak dini,” pesannya. Ruangan itu sunyi, lalu pecah dalam tepuk tangan haru.
Plt Direktur RSUD Bangil, dr. Arma Roosalina, kemudian angkat bicara. Matanya berbinar penuh keyakinan. “Kami punya banyak kegiatan untuk lansia. Ada senam rutin komala seminggu sekali. Kami ingin mereka tetap bugar, tetap dicintai,” katanya dengan suara mengharukan.
Ia juga mengungkapkan bahwa RSUD Bangil menjalankan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang bersinergi dengan seluruh puskesmas di Kabupaten Pasuruan. Lebih dari itu, bagi mereka, lansia adalah prioritas. Di poli, di ruang non-gawat darurat, mereka didahulukan. “Kecuali darurat, semua tetap utama. Tapi lansia adalah yang utama di antara yang utama,” tegasnya.
Sementara itu, drg. Merita Rusdi Sutejo, Ketua TP PKK, menutup rangkaian acara dengan pernyataan yang menggugah. Baginya, ini bukan sekadar kegiatan seremonial.
”Ini adalah bentuk perhatian,” ucapnya lirih namun menusuk kesadaran. “Senam untuk kebugaran, edukasi tulang agar mereka paham. Karena menjaga lansia adalah menjaga akar kita.”
Ia lalu menatap satu per satu wajah lansia di hadapannya. “Kolaborasi ini harus terus dirawat. Urusan lansia bukan hanya urusan kesehatan, bukan hanya keluarga, bukan hanya pemerintah. Ini tanggung jawab kita semua,” tutupnya, disambut hening yang berisi.
Pagi itu di Pasuruan, usia bukanlah beban. Ia adalah panggung kehormatan. Dan ketika para lansia pulang dengan tubuh lebih bugar dan hati lebih hangat, satu pesan tersirat: bahwa selama masih ada yang peduli, tak ada masa tua yang sepi.(Wid)
Tidak ada komentar