
KARAWANG | SCDNEWS.ID – Di balik kokohnya tembok lapas, semangat membangun kemandirian terus bertumbuh. Bukan hanya melalui pembinaan kepribadian, tetapi juga lewat berbagai program produktif yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi warga binaan, institusi, hingga masyarakat luas. Komitmen tersebut terlihat dalam kunjungan kerja Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, Yudi Suseno, ke Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kelas IIA Karawang untuk meninjau secara langsung pelaksanaan program ketahanan pangan yang telah dikembangkan secara berkelanjutan.
Didampingi Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo beserta jajaran, Yudi Suseno menelusuri setiap sudut kawasan SAE yang kini berkembang menjadi pusat pembinaan berbasis kemandirian. Kunjungan diawali dengan peninjauan peternakan Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan) yang menjadi salah satu komoditas unggulan. Di lokasi tersebut, Yudi berdialog dengan petugas mengenai sistem pemeliharaan, produktivitas ternak, hingga pengembangan populasi sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju peternakan domba dan sapi. Di sana, Yudi Suseno mengamati secara langsung proses pemeliharaan ternak yang dilakukan secara terintegrasi dan berkesinambungan. Baginya, keberhasilan program ketahanan pangan bukan hanya diukur dari jumlah ternak yang dipelihara, tetapi dari bagaimana seluruh proses tersebut mampu menjadi media pembelajaran bagi warga binaan untuk memperoleh keterampilan yang bernilai ketika kembali ke tengah masyarakat.
Tak hanya itu, perhatian khusus juga diberikan pada Bank Pakan, sebuah inovasi yang menjadi penunjang keberlangsungan peternakan di SAE Lapas Karawang. Melalui pengelolaan pakan secara mandiri, Lapas Karawang menunjukkan upaya membangun sistem peternakan yang lebih efisien, berkelanjutan, dan tidak bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar. Menurut Yudi, langkah tersebut merupakan bentuk inovasi yang patut diapresiasi karena mampu memperkuat keberlanjutan program ketahanan pangan.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke ruang penetasan telur, tempat di mana proses awal kehidupan dimulai melalui pemanfaatan teknologi sederhana namun efektif. Dengan penuh antusias, Yudi Suseno menyaksikan proses inkubasi telur hingga menjadi bibit unggul yang nantinya akan memperkuat populasi peternakan ayam di lingkungan Lapas. Ia menilai bahwa pengembangan unit penetasan merupakan bukti bahwa Lapas Karawang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga membangun sistem pembinaan yang berkesinambungan dari hulu hingga hilir.
Tidak berhenti di sektor peternakan, rombongan juga meninjau area perikanan budidaya Nila Nirwana yang menjadi salah satu sektor unggulan dalam mendukung diversifikasi program ketahanan pangan. Deretan kolam budidaya yang tertata rapi memperlihatkan keseriusan Lapas Karawang dalam mengembangkan sektor perikanan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan. Yudi tampak berdiskusi mengenai metode pemeliharaan, kualitas bibit, hingga strategi pengembangan budidaya peternakan perikanan agar mampu memberikan hasil yang optimal.
Di sela-sela peninjauan, Yudi Suseno menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Lapas Kelas IIA Karawang atas dedikasi dan inovasi yang telah ditunjukkan dalam mengembangkan Sarana Asimilasi dan Edukasi. Menurutnya, “SAE bukan sekadar lokasi budidaya peternakan maupun perikanan, tetapi merupakan laboratorium pembelajaran yang membentuk karakter warga binaan agar menjadi pribadi yang produktif, bertanggung jawab, dan siap kembali berkontribusi di tengah masyarakat”.
“Program ketahanan pangan yang dikembangkan di Lapas Karawang memperlihatkan bahwa pembinaan dapat diwujudkan melalui kerja nyata. Di tempat ini, warga binaan tidak hanya belajar beternak atau membudidayakan ikan, tetapi juga belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan pentingnya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Inilah wajah pemasyarakatan yang sesungguhnya, yaitu membina manusia agar kembali menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Yudi Suseno.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo, menegaskan bahwa pengembangan SAE Ketahanan Pangan merupakan bentuk komitmen Lapas Karawang dalam mendukung program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada sektor ketahanan pangan dan pembinaan kemandirian warga binaan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap program pembinaan memberikan pengalaman nyata dan keterampilan yang aplikatif. Melalui SAE, warga binaan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun etos kerja, rasa tanggung jawab, serta kepercayaan diri sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat. Ketahanan pangan yang kami bangun hari ini sejatinya adalah investasi untuk menciptakan sumber daya manusia yang lebih baik di masa depan,” ungkap Ma’ruf Prasetyo.
Kunjungan kerja tersebut menjadi bukti nyata bahwa transformasi pemasyarakatan tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan pelayanan dan keamanan, tetapi juga melalui penguatan program-program produktif yang memberikan dampak langsung bagi pembinaan. Dengan mengintegrasikan sektor peternakan, perikanan, hingga pengelolaan pakan dalam satu ekosistem Sarana Asimilasi dan Edukasi, Lapas Kelas IIA Karawang menunjukkan bahwa dari balik tembok pemasyarakatan dapat tumbuh inovasi, kemandirian, dan harapan baru.
Lebih dari sekadar meninjau fasilitas, kehadiran Kepala Kantor Wilayah menjadi suntikan semangat bagi seluruh jajaran Lapas Kelas IIA Karawang untuk terus berinovasi dan memperkuat kualitas pembinaan. Sebab, setiap kandang yang terawat, setiap kolam yang menghasilkan, dan setiap proses pembelajaran yang berlangsung di SAE bukan hanya tentang ketahanan pangan, melainkan tentang menyiapkan manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pidana. Dari Sarana Asimilasi dan Edukasi inilah, harapan ditumbuhkan, keterampilan dibangun, dan masa depan dipersiapkan dengan penuh optimisme.(TIM)
Tidak ada komentar